misykat

Wacana

Buku Pelajaran yang Menyebalkan

Oleh: Ahmad Musthofa Haroen

Melongok ke perpustakaan yang jumlahnya tak begitu banyak di negeri ini, seseorang akan disuguhi kenyataan bahwa keheningan dan sepi tidak dimonopoli oleh pekuburan saja. Kontras jika dibandingkan dengan betapa semaraknya jasa rental game online atau Play Station yang tersebar hingga ke pelosok desa. Ini adalah tragedi.

Secara kasar fenomena tersebut bisa disimpulkan sebagai potret kebangkrutan nilai-nilai pengetahuan dan intelektualitas. Gairah menjelajah cakrawala pengetahuan dengan menguras isi perpustakaan menjadi barang langka. Mengapa gairah itu kian hari kian terkikis, atau paling tidak, dikalahkan budaya hurahura (hedonisme)? Apakah generasi sekarang sudah sedemikian jauhnya dengan budaya beraksara? Apa yang menyebabkan buku tidak menjadi bagian penting dari kehidupan kita?

Dalam kongres ke-7 IPPI di Istora Senayan, Bung Karno bercerita panjang tentang masa belianya—masa dimana ia mulai menemukan cita-citanya. Sukarno belia sudah berkenalan dengan Marx, Engels, Mazzini, G Washington, Jefferson, Gladstone, Sidney Webb, Liebbnecht, hingga nama-nama seperti Mahatma Gandhi, Taigo Sakamori, Mustafa Kamil dan Sun Yat Sen. Perkenalan dengan mereka ini menanamkan kesadaran imajiner bahwa sebagai generasi muda, ia harus tahu cita-cita besar macam apa yang harus diperjuangkannya.

Di mana Sukarno menemui mereka? Perpustakaan. Sukarno rakus membaca. Sukarno belia adalah tipe predator buku yang menguras habis isi perpustakaan. Tapi anehnya, Sukarno tak menyebutkan sekolah formal sebagai pemicu gairah membacanya itu. Sejauh apa relasi antara “sekolah formal” dan “gairah membaca

Sejak kecil generasi kita sebenarnya sudah diperkenalkan dengan buku. Sejak sekolah dasar atau bahkan TK, seorang anak sudah mulai diajari bagaimana membaca rangkaian huruf menjadi kata, kata menyusun kalimat, kalimat menjelma paragraf dan seterusnya. Sepintas memang tak ada masalah, tapi seorang anak jarang mendapatkan bimbingan kejiwaan bahwa membaca adalah proses menuju pencerahan, adalah bentang samudera tak bertepi, adalah kesadaran berperadaban. Sedari dini hanya ditanamkan sikap yang kerdil, semakin cepat bisa mengeja, membaca lantas membunyikannya di mulut, semakin anak itu dianggap pintar.

Di tingkat dasar dan lanjutan, generasi kita didorong untuk membeli buku-buku pelajaran baru, diktat-diktat baru atau Lembar Kerja Siswa (LKS) yang baru pula. Saat di SD dulu, saya giat menghapalkan diktum-diktum yang sering disusun secara numerik itu agar kala ulangan meraih nilai delapan atau sembilan. Saya bahkan beranggapan semakin cerdas seseorang, maka semakin banyaklah yang bisa ia hapal. Dan saya berambisi menjadi anak cerdas dalam definisi seperti itu. Menghapal, menghapal dan menghapal. Akhirnya, mulailah saya kedodoran.

Anehnya, kala itu seperti ada suara di alam bawah sadar bahwa yang dianggap buku hanyalah diktat-diktat di sekolahan itu. Tiap kali usai membaca novel, komik, majalah, atau tabloid anak-anak, saya seakan-akan merasa tidak sedang membaca meski mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Kalaupun itu disebut membaca, maka hukumnya sunnah dan tidak wajib, sehingga ada “bacaan kelas satu” dan “bacaan kelas dua”.

Jarang sekali, atau bahkan tidak pernah, di sekolah para murid dirangsang untuk membaca apa saja. Aksiomanya, belajarlah biar pintar. Dan yang dimaksud dengan belajar tentu saja adalah menghapal materi yang sudah ditentukan guru. Lama-kelamaan saya bosan dan jengah. Betapa sekolah hanya menghargai mereka yang cepat dalam hapalan dan kuat dalam ingatan. Kreativitas bernalar dipinggirkan. Buku-buku mainstream di sekolah menjadi kanonik alias serupa kitab yang (di)suci(kan).

Begitulah, “pola pembacaan buku” di sekolah-sekolah kita mulai tingkat dasar hingga tingkat lanjutan. Buku pelajaran selalu jadi sumber yang harus dihapal baris per barisnya. Menghapal jelas bukan tantangan karena itu hanya sebentuk upaya untuk merekam atau semacam copy-paste yang menguras energi tapi tak menghargai kerja akal. Sekolah kemudian menjadi serupa pabrik instalasi robot-robot penghapal. Aspek kognitif yang terlalu dikedepankan akhirnya menggiring budaya membaca ke belakang. Paradoks dan ironis.

Jika kemudian bangsa kita tak punya kultur membaca yang kuat, sama artinya—atau kita layak curiga—sekolah-sekolah di negeri ini tak cukup mampu membangun kultur itu dan, jangan-jangan, malah merubuhkannya sebelum berdiri.

Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, buku pelajaran dari dulu hingga sekarang, meski kurikulum terus berganti episode, jarang menyentuh aspek kesadaran. Siswa tak cukup sadar bahwa membaca adalah kebutuhan. Kedua, banyak buku pelajaran dikemas dalam format yang asal jadi, gaya bahasa seadanya dan materi yang tidak memadai. Ketiga, metode yang dipakai untuk membaca buku pelajaran adalah menghafal, bukan memahami. Sehingga wajar jika, buku-buku lain di luar pelajaran dipinggirkan. Selain itu, sering sekali terjadi Guru justru bertindak sebagai agen buku, dengan sejumlah kompensasi dari penerbit jika ia bisa menjual dalam eksemplar tertentu.

Kita patut iri dengan negara dengan kultur membaca yang sangat mengakar seperti Amerika. Di tempat-tempat publik semisal bandara, stasiun, rumah sakit atau di kendaraan umum sekalipun, banyak orang merasa penting untuk membaca. Menjadi masuk akal, jika di sana masyarakat sangat menghargai perpustakaan. Dan ketika fenomena ini ditelisik, didapati kenyataan bahwa sekolah termasuk mata rantai paling penting untuk menumbuhkan kesadaran itu.

Dalam budaya literasi barat, hampir-hampir mustahil jika seorang siswa bersekolah tanpa bisa mengapresiasi kegiatan membaca sebagai sesuatu yang penting. Sekolah mendorong para siswa untuk memahami bahwa membaca adalah aktivitas yang penuh nilai, memperluas pengetahuan dan memampukan mereka untuk menjadi orang berguna serta produktif bagi masyarakat. Sekolah memacu mereka untuk menjadi pembaca yang melek dan mampu menjelajah berbagai jenis bacaan untuk tujuan yang beragam (Encarta Encyclopedia 2003)

Di negara maju, buku pelajaran menunjang siswa untuk menyuburkan kegemaran membaca apa saja sesuai dengan minat dan disiplin ilmu masing-masing. Ini adalah sebentuk kesadaran manusia berperadaban. Sayang sekali, di negeri ini, buku pelajaran justru punya kontribusi penting dalam pengebirian kultur membaca.

Dengan demikian, setidaknya kita mulai mengembangkan kesadaran baru bahwa buku pelajaran hanya sebagian kecil saja dari sekian luas semesta pustaka yang ada. Sangat perlu kiranya, kurikulum pendidikan diorientasikan pada kebudayaan membaca dalam pengertian yang luas. Pada gilirannya, sekolah bisa merangsang siswa untuk melek dan sadar, sehingga kebutuhan membaca sama harganya dengan keniscayaan bernafas. Dengan begitu, generasi kita akan mampu membentuk cita-cita yang tinggi, menjadi manusia berpengetahuan, menjadi bangsa berperadaban. Namun entah jika sebagian dari kita justru merasa nyaman menjadi manusia purba.

  1. natal untuk saat ini saya kira masih ******haram****** bagi kita untuk memperingatinya di negara kita…..
    karena melihat psikologi masyarakat kita yang belum siap menerima kenyataan ini”””’
    …. saya kira anda pasti lebih mengerti arti dari kaidah……..(dar’ul mafasid muqoddam ‘ala…………………………………………….) hukum bleh-tidak atau halal-haram tentu harusmelihat banyak pertimbangan…. ()

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: