misykat

Kupas Tuntas Fiqh bersama K.H. Azizi Hasbullah

Edisi 45, Maret 2008

 

Salat Di Atas Perahu

 

           

Assalamualaikum Wr.Wb.

Bapak kiai yang saya hormati! Saya ingin bertanya bagaimana hukum shalat diatas perahu, padahal tubuh kita terus bergerak-gerak. Apalagi jika perahunya kecil? Atas penjelasannya kami sampaikan  terima kasih.

Wassalamualailkum Wr.Wb.

Abdul Qadir

Purworejo

08157965xxxx

 

Salat di atas perahu kecil yang selalu bergerak-gerak hukumnya sah jika syarat dan rukunnya bisa terpenuhi. Sebab air laut termasuk ardlu yang artinya bumi. Padahal semua bumi telah dipersilahkan dan disediakan sebagai tempat sujud/ shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

جُعِلَتِ اْلأَرْضُ لِي مَسْجِدًا

Artinya: ”Telah dijadikan bumi untukku sebagai masjid(tempat sujud).”

Gerakan perahu yang menyebabkan tubuh kita terus bergerak tidak jadi masalah (tidak menyebabkan batalnya shalat) karena gerakan yang dapat membatalkan shalat adalah gerakan yang dilakukan oleh orang yang sedang melaksanakan shalat. Dalam masalah ini gerakan semata-mata timbul karena gerakan perahu yang menjadi tempat shalat, bukan karena pekerjaan orang yang sedang shalat.

 

 

 

Akad Nikah Dengan Selaim Bahasa Arab

 

Assalamualaikum Wr.Wb.

Bapak Azizi yang dimulyakan Allah! Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan perihal akad nikah. Bagaimana hukum melakukan akad nikah dengan selain bahasa Arab? 

Wassalamualailkum Wr.Wb.

 

IIn muthma’innah

Sragen

081554779XXX

 

            Ijab qabul dalam akad nikah tidak diharuskan dengan bahasa Arab. Menurut pendapat ashah (pendapat yang lebih benar) yang terpenting menggunakan kata terjemah dari kata bahasa Arab inkah/ tazwij (الإِنْكَاحُ/ التَّزْوِيجُ). Sebab maksud dari pelaksanaan akad nikah dengan ijab qabul adalah agar kedua belah pihak (calon suami dan wali calon istri) serta dua orang saksi mengetahui bahwa kedua mempelai telah resmi dan sah menjalin ikatan pernikahan.

Pandapat kedua mengatakan bahwa akad nikah harus dilaksanakan dengan bahasa Arab, sebab akad nikah yang diajarkan al Quran dan al Hadis semuanya menggunakan bahasa Arab. Sedangkan pandapat ketiga mengambil jalan tengah di antara dua pendapat di atas. Pendapat ini mengatakan bahwa akad nikah boleh dilakukan dengan bahasa selain Arab jika seseorang tidak mampu melaksanakannya dengan bahasa Arab. Akad nikah adalah akad yang harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, sebab dampak dari ketidakabsahan akad nikah sangatlah fatal. Jika akad nikah yang dilaksanakan tidak sah, maka persetubuhan yang dilakukan menjadi zina. Padahal zina termasuk golongan dosa besar. Selain itu juga akan terjadi kesalahan yang turun temurun dalam pembagian warisan.

Perbedaan pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab I’anah al Tholibin juz 3 halaman 318:

 

 

وَصَحَّ النِّكَاحُ بِتَرْجَمَةٍ أَيْ تَرْجَمَةِ أَحَدِ اللَّفْظَيْنِ بِأَيِّ لُغَةٍ أَيْ مِنْ لُغَةِ الْعَجَمِ وَالْمُرَادُ بِهَا مَا عَدَا الْعَرَبِيَّةَ وَلَوْ مِمَّنْ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ غَايَةٌ فِي الصِّحَّةِ أَيْ صِحَّةِ النِّكاَحِ بِتَرْجَمَتِهِ بِمَا عَدَا لُغَةِ الْعَرَبِ وَلَوْ مِمَّنْ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ وَهِيَ لِلرَّدِّ كَمَا يُفِيدُهُ عِبَارَةُ الْمُغْنِيِّ وَنَصُّهَا بَعْدَ قَوْلِ الْمَنْهَجِ وَيَصِحُّ بِالْعَجَمِيَّةِ فِي اْلأَصَحِّ وَالثَّانِي لاَ تَصِحُّ اعْتِبَارًا بِاللَّفْظِ الْوَارِدِ وَالثَّالِثُ إِنْ عَجَزَ عَنِ الْعَرَبِيَّةِ صَحَّ وَإِلاَّ فَلاَ إهـ وَمِثْلُهُ فِي النِّهَايَةِ.

 

Artinya: ”Akad nikah sah dilakukan dengan terjemah dari salah satu dua kata di atas (الإِنْكَاحُ/التَّزْوِيجُ) dengan bahasa apapun dari bahasa ajam (selain bahasa Arab) walaupun dilakukan oleh orang yang bisa berbahasa Arab. Sebagaimana penjelasan dalam kitab al Mughni al Muhtaj yang sekaligus menyangkal pendapat ulama yang lain. Dalam kitab  al Mughni al Muhtaj disebutkan dengan redaksi sebagai berikut: Akad nikah sah dilakukan dengan selain bahasa Arab menurut pendapat ashah (pendapat yang lebih benar). Menurut pendapat kedua tidak sah karena menyesuaikan dengan bahasa akad nikah yang telah diajarkan dalam syara’. Sedangkan pendapat ketiga menyimpulkan hukum sah jika dilakukan oleh orang yang tidak mampu berbahasa Arab.”

 

 

 

  1. Wah, terima kasih Kiyai….

  2. apa dalil tentang hukum plastik hasil daur ulang?????

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: