misykat

Khutbah Jumat

Edisi 45, Maret 2008

Zuhud Bukan Berarti Miskin

Oleh: HM Abdul Muid Shohib

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ تُسَبِّحُ لَهُ الرِّمَالُ ، وَتَسْجُدُ لَهُ الظِّلاَلُ ، خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنَ الطِّيْنِ اللاَّزِبِ وَالصَّلْصَالِ ، وَزَيَّنَ صُوْرَتَهُ أَحْسَنَ  تَقْوِيِمٍ وَأَتَمَّ اعْتِدَالٍ ، وَعَصَمَ قَلْبَهُ بِنُوْرِ الْهِدَايَةِ عَنْ وَرَطَاتِ الضَّلاَلِ ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ كَحَّلَ بَصِيْرَةَ الْمُخْلِصِ فِيْ خِدْمَتِهِ بِنُوْرِ الْعِبْرَةِ حَتَّي لاَحَظَ بِضِياَئِهِ حَضْرَةَ الْجَلاَلِ وَاْلكَمَالِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لاَحَ لَهُ مِنَ الْبَهْجَةِ وَالْبَهَاءِ وَاْلكَمَالِ ، مَا زَالَت الشَّمْسُ طَالِعَةً كُلُّ حُسْنٍ وَجَمَالٍ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ أَزْهَدِ الزَّاهِدِيْنَ وَأَتْقَى الرِّجَالِ ، وَعَلَى آلِهِ خَيْرِ آلٍ ، وَأَصْحَابِهِ أَفْضَلِ اْلأُمَّةِ بِقَرْعِ بَابِ الْخِدْمَةِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ . أَمَّا بَعْدُ :

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ، فَقَدْفَازَ مَنِ اتَّقَى وَزَهَدَ كُلَّ الزُّهْدِ بِتَرْكِ التَّفَاخُرِ وَالتَّكَاثُرِ بِاْلأَمْوَالِ ، وَأَطَاعَ رَبَّهُ فِي كُلِّ حِيْنٍ بِاْلإِمْتِثَالِ .     

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi, sebagai khalifah manusia mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat. Bahkan hanya manusia saja yang menerima tugas dan tanggung jawab ini, sedangkan yang lainnya menolak. Dalam Al Quran ditegaskan bagaimana makhluk-makhluk selain manusia tidak sanggup untuk memikul tugas berat tersebut. Perhatikan firman Allah dalam surat Al Ahzab: 72 berikut ini

ِإنَّا عَرَضْناَ اْلأَمَانَةَ عَلىَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَا مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” (QS. Al Ahzab: 72)

 

Oleh karena itu, Allah menganugerahi manusia suatu kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lian, yaitu kemampuan berpikir (quwah nadhariyah) di samping memberi kemampuan fisik (quwah ‘amaliah) seperti yang diberikan kepada makhuk-makhluk Allah yang lain. Hal itu dimaksudkan untuk membantu manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Dengan kemampuan berpikirnya, manusia dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk. Demikian pula, dengan anugerah tersebut manusia dalam kesehariannya dapat nengambil yang bermanfaat bagi drinya maupun orang lain, serta mampu mencegah sesuatu yang bisa berakibat buruk bagi dirinya juga orang lain. Sedangkan dengan kemampuan fisik yang dimilikinya, manusia dapat berusaha dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tugas manusia sebagai khalifah adalah untuk beribadah, baik itu ibadah yang sifatnya individual maupun sosial. Jadi, semua tindakan yang dilkukannya, baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri ataupun orang lain, hanya diarahkan untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Allah berfirman dalam surat Adz Dzariyat: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Selain itu, manusia jga mempunyai tanggung jawab untuk membangun bumi (‘imaratul-ardli), bukan sebaliknya, merusaak bumi hanya untuk kepentingan-kepentingan duniawi dan menuruti keinginan hawa nafsu belaka.

Pada posisi lain, guna memenuhi hidupnya yang pokok, manusia membutuhkan makan, minum pakaian, dan tempat tinggal. Kenyataan seperti itulah yang menyebabkan manusia untuk bekerja dan berikhtiar dalam rangka menutupi kebutuhan hidup. Bekerja dan berikhtiar mencari biaya hidup bukan berarti mencerminkan sikap senang terhadap harta benda, tetapi hanya sekedar memnuhi kebutuhan hidup. Dengan aktivitas itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu beribadah, mengabdi, dan tunduk kepada Sang Pencipta.

Dalam konteks seperti ini, bekerja dan berikhtiar menjadi sesuatu yang wajib, karena beribadah adalah wajib. Sedangkan beribadah tanpa bekerja, pada umumnya manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu sesuai dengan kaidah:

ماَ لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Artinya; “Sesuatu yang apabila kewajban tidak bisa sempurna tanpanya, maka sesuatu tersebut wajib hukumnya” 

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah…

Pada sisi lain, manusia diprintah untuk zuhud, meniggalakan segala hal yang berkaitan dengan duniawi. Ini merupakan sebuah dilematis tersendiri. Satu sisi manusia harus bekerja mencari harta benda guna menutupi kebutuhan sehari-harinya, namun di sisi lain dia diprintah zuhud. Inilah yang menjadi perenungan para Sufi -terutama ulama-ulama kuno/ salaf- guna memberi solusi yang tepat dan akurat.

Pengertian zuhud menurut Sayid Abu Bakar dalam Kifayah Al Atqiya’ sebenarnya tidak berbeda jauh dari gambaran di atas, yaitu:

فَقْدُ عَلاَقَةِ الْقَلْبِ بِالْمَالِ ، وَلَيْسَ هُوَ فَقْدَ الْمَالِ

Aartinya: “Menghilangkan ketergantungan hati terhadap harta benda (dunia), bukan berarti tidak punya harta.” 

Pendapat lain mengatakan, zuhud adalah meninggalkan dunia sepenuhnya. Ada juga yang mengatakan, zahid adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan segala sesuatu yang diperintakan Allah serta meninggalkan segala kesibukan terhadap selain-Nya. Bahkan ada yang mengatakan, zuhud adalah meninggalkan dunia seakan-akan dunia ini tidak ada.

Perbedaan pengertian zuhud antara seseorang dan yang lainnya di atas, sebenarnya berangkat dari perbedaan maqam atau tingkatan masing-masing dalam tasawuf. Ada yang ketika mencapai maqam tertentu, seseorang hanya tsiqah billah (percaya sepenuhnya kepada Allah) dan berserah diri secara total (tanpa ikhtiar dan tidak mengharap pada selain Allah). Hal itu tercermin dari tiga definisi akhir tentang zuhud.

Tapi, dari pengertian zuhud sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa zuhud bukan berarti benci kepada dunia atau tidak punya harta benda. Tapi zuhud adalah menghilangkan ketergantungan hati pada selain Allah SWT (harta benda dan lainnya). Kesimpulan ini selaras dengan apa yang telah dipaparkan Al Ghazali, setelah beliau menggambarkan dunia -dengan berbagai macam bentuk dan warna-warninya- betapa hina dan rendahnya, beliau menyimpulkan: zuhud ialah meniggalkan segala yang dicintai hawa nafsu menuju yang lebih baik dengan keyakinan apa yang kelak ia peroleh jauh lebih berharga dibandingkan apa yang ditinggalkan. Dengan kata lain, zuhud adalah meninggalkan urusan duniawi untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Al Ghazali memberikan gambaran sebagai cerminan bagi zahid (orang yang zuhud). Pertama, tidak ada bedanya antara memiliki harta dan tidak. Yakni, tidak merasa senang dengan adanya harta, juga tidak susah dengan tiadanya harta. Kedua, dipuji atau dicelah orang lain, tidak ada pengaruh bagi dirinya. Ketiga, ketenteraman hatinya hanya bersandar kepada Allah semata, serta hatinya dipenuhi perasaan “nikmatnya berbakti” (ta’at) kepada Sang Khaliq.   

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Jadi, zahid sebenarnya bukanlah seseorang yang tidak memiliki harta benda sama sekali. Meskipun dia punya harta benda melimpah, akan tetapi jika hanya bergantung kepada Allah semata, tidak kepada yang lain, dapat dikategorikan zahid. Dan sebaliknya, walaupun seseorang tidak memiliki harta, akan tetapi jika hatinya masih bergantung pada salain Allah, tidak bisa lepas dari dunia dan selalu mengahrap pemberian orang lain, maka dia bukanlah zahid.

Semua sepakat, jika zuhud merupakan suatu anjuran dan keutamaan, sesuai dengan sabda Nabi saw:

اِزْهَدْ فِي الدُّنْياَ يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ بِمَا فِي أَيْدِ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

Artinya: “Berzuhudlah dalam (urusan) dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah. Dan berzuhudlah (jangan mengharap) dari apa-apa yang ada pada genggaman manusia, niscaya kamu akan disukai manusia.”

Secara umum, kita semua memang membtutuhkan harta benda untuk menjaga kelangsungan hidup. Namun hal itu jangan dijadikan alasan menghabiskan seluruh waktu hanya untuk bekerja dengan melupakan kewajiban-kewajiban sebagai makhluk hidup.

Tujuan hidup manusia bukan sekedar bekerja dan menumpuk harta benda, tetapi mencari kwbahagiaan dunia dan akhirat (sa’adutud-daraini). Dunia hanyalah sebagai tempat menanam (mazra’ah) dengan melakukan amal saleh sebanyak mungkin sebagai bekal untuk kehidupan selajutnya. Harta benda hanyalah bagian dari dunia yang sedikit nilainya dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Semoga apa yang telah disampaikan berguna dan bermanfaat fid din wad dunya wal akhirah, amin…

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ ، وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاتِ الدُّنْياَ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ، وَرِزْقُ رَبِّكَ هُوَ خَيْرٌ وَّأَبْقَى . بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: