misykat

Artikelmu

MISYKAT Edisi 48/ Juli 2008/ Tahun Ke-5

Merubah Paradigma Tauhid[1]:

(Upaya merubah tauhid dari Ilmu yang hanya membela Tuhan menjadi Ilmu yang membela kaum tertindas)

Oleh: H Ahmad Taufiq

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam datang dengan seperangkat ajaran yang berisikan tata norma dan tata aturan yang penuh dengan hikmah-hikmah terpendam. Islam dibawa oleh Rasulullah mempunyai tiga pondasi[2] yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjadi seorang mukmin yang kaffah. Pertama, Iman, yang kemudian oleh para ulama dijadikan cikal bakal munculnya ilmu tauhid (yang akhirnya dikenal dengan Rukun Iman). Kedua, Islam terangkum dalam Lima Rukun Islam yang akhirnya berkembang menjadi ilmu fikih. Dan yang ketiga, Ihsan yang menjadi awal dari cikal bakal munculnya ilmu tasawuf.

Tauhid (iman) sebagai bagian dari pondasi itu, juga harus dimiliki oleh seorang sebagai pondasi awal untuk menuju pada pondasi selanjutnya yaitu Islam dan Ihsan. Iman merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia sebagai bentuk percaya dan yakin akan adanya wujud Tuhan Sang Maha Kuasa dan bentuk keyakinan bahwa tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang menyekutukanNya.

Definisi Tauhid

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu tauhid adalah ilmu yang secara teori lahir pada masa al- Makmun[3] yang membahas tentang ke-Esaan dan kemahakuasaan Tuhan dengan menggunakan logika bahwa semua yang ada di dunia ini adalah sebagai bukti keberadaan-Nya. Tauhid, selain membahas tentang ke-Esaan Tuhan juga membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan. Baik itu berupa sifat-sifatNya, kehendakNya, utusan-utusanNya, hari kiamat, pembalasan Tuhan, taqdirNya dll. Kelompok yang pertama kali berbicara tentang (tauhid) sifat, sorga, neraka, pembalasan Tuhan dalah Khawarij yang awalnya menyikapi pertentangan politik mengenai perebutan khalifah antara sahabat Ali dan sahabat Mu’awiyah yang pada akhirnya merembet pada masalah akidah.[4] Yang dari sinilah kemudian banyak bermunculan aliran-aliran (firqoh-firqoh/ sekte) yang berbeda pendapat mengenai hal-hal tersebut di atas, sehingga ada yang disebut Khawarij, Syiah, Mu’tazilah, Ahlussunah, Murji’ah dll, yang kesemuanya itu memperdebatkan tentang ke-Esaan Tuhan dan semua yang berhubungan dengan Tuhan.

Tauhid dan permasalahannya

Tauhid menjadi suatu cabang keilmuan mandiri yang memiliki bahasan khusus tersendiri yaitu tentang Tuhan, sifatNya, kekuasaanNya, sorga, neraka, kufur, murtad, mukmin, taqdir Tuhan dll. Tauhid menjadi ilmu yang cemerlang dan sempat menghebohkan peradaban Islam pada abad 4-5 Hijriyah, dimana tauhid menjadi ilmu yang favorit dan banyak diminati oleh para santri waktu itu. Persoalan tauhid-lah yang telah mengharuskan Imam Syafi’i dirantai bahkan hampir dihukum pancung oleh penguasa saat itu. Tauhid pula yang mengharuskan Imam Hanbali diperiksa dan hampir juga dihukum mati oleh penguasa yang dikenal dengan peristiwa Mihnah. Persoalan tauhid pula yang menyebabkan ratusan ulama Sunni dibunuh oleh rezim Mu’tazilah karena tidak mau mengakui al Quran sebagai makhluk. Sehingga sejarah tauhid dalam Islam betul-betul menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Tauhid antara Elit dan Alit

Ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan degradasiNya (kedudukan). Ilmu tauhid selalu memperdebatkan tentang kondisi Tuhan dan berusaha melogika-kan bahwa Tuhan itu betul-betul ada, ilmu tauhid juga mempertahankan posisi Tuhan dan selalu menunjukkan kemaha-kuasaan Tuhan, bahkan perdebatannya pun sejak dulu selalu tentang Tuhan dan berusaha memperkuat posisi Tuhan. Akibatnya asumsi yang muncul adalah ilmu tauhid adalah ilmu yang “membela Tuhan”.

Akibat itu pula, tauhid menjadi elitis dan hanya dimiliki dan diikuti oleh para ulama dan agamawan, sedangkan para kaum awam tidak diperkenankan ikut membicarakannya karena khawatir murtad dan kufur, hal itu didasarkan pada hadis Nabi yang berbunyi, Berfikirlah kalian semua akan ciptaan Allah dan jangan berfikir akan DzatNya[5]. Akibat hadis ini pula perkembangan ilmu tauhid juga mandeg hingga sekarang, karena beranggapan bahwa yang berhak membicarakan dan membongkar epistemologi tauhid/ kalam hanya ulama zaman dulu. Akhirnya ilmu tauhid betul-betul menjadi ilmu yang elit dan tertutup.

Dalam teologi/ tauhid ada dua pemahaman dalam rangka memahami Tuhan yaitu: pertama: Tuhan dipahami sebagai sosok yang trasenden (jauh). Tauhid dalam pemahaman ini, tidak pernah diajak untuk membicarakan dam mendiskusikan tentang kondisi umat yang saat ini ada dihadapan kita, tauhid tidak pernah diajak untuk menyelesaikan sekian persoalan yang dihadapi kebanyakan umat Islam saat ini, baik itu berupa kemunduran, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Yang semua masalah itu selalu menghantui umat Islam hampir diseluruh negara. Hal itu akibat memposisikan kondisi Tuhan yang jauh dari kita karena tauhid yang diyakini sekarang adalah tauhid yang (seakan-akan) berfungsi hanya membela Tuhan yang jauh diatas sana.

Kedua: Tuhan dipahami sebagai suatu imanen (dekat dan menyatu) dengan hambaNya. Dalam pemahaman ini tauhid dihadirkan dalam setiap perjuangan, dan selalu menjadi spirit dakwah yang selalu dikaitkan dengan persoalan umat ini, sehingga tauhid terasa dekat dengan umat.

Realitas umat Islam saat ini

Melihat pemahaman umat Islam saat ini jika mengaitkan tauhid dengan persoalan kemanusiaan sekarang adalah sbb:

1. Umat Islam yang percaya dan meyakini bahwa kemunduran, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami umat Islam saat ini adalah akibat takdir Tuhan. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa membendung dan menolaknya. Oleh karena itu, tiada lain solusinya kecuali mengembalikan pada Tuhan dengan banyak bertobat, banyak berdoa, istighotsah dan selalu memohon pertolongan kepadaNya.

2. Umat Islam yang meyakini dan percaya kemunduran, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam saat ini akibat perbuatan para musuh Islam yaitu Yahudi (zionisme). Yang kebetulan mereka sekarang sedang maju dam memegang kendali dunia dengan modal(kapital) dan pengetahuan tehnologi, sehingga dengan mudah mempermainkan umat Islam dan negara Islam. Mereka adalah Amerika dan Eropa serta para sekutunya. Oleh karenanya, solusi tepat untuk membuat Islam maju dan berkembang adalah selain berdoa pada Allah juga dengan cara melawan (jihad) dengan cara apapun, termasuk bom bunuh diri.

3. Kelompok ketiga adalah kelompok yang mencoba setengah-setengah atau moderat, bahwa semua persoalan umat Islam saat ini selain karena takdir Tuhan juga karena akibat musuh di luar Islam. Oleh karenanya solusi yang baik menurut kelompok ini adalah selain berdoa juga harus belajar yang rajin agar bisa menyaingi musuh Islam dan bisa mengalahkan mereka dalam semua disiplin keilmuan, meskipun kelompok ini juga tidak memiliki orientasi dan struktur keilmuan yang jelas dan terarah.

4. Sedangkan kelompok keempat adalah kelompok yang progresif transformatif dan mencoba berpandangan jauh kedepan, kelompok ini tidak mau terjebak dalam perdebatan tauhid masa lalu yang melelahkan, kelompok ini membawa tauhid sebagai ilmu yang imanen (dekat). Tauhid bagi kelompok ini adalah tauhid yang menjadi spirit perjuangan, sebagaiman masa Nabi, dimana tauhid berfungsi dua hal. Pertama,memberantas penyembahan berhala (penyembahan/ ketergantungan pada selain Allah swt). Kedua, menghapus dominasi kaum kaya Makah yang selalu mengeploitasi kaum lemah (budak dan kaum miskin). Dalam orientasi ini Nabi menunjukkan bahwa ajarannya tidak hanya terfokus pada persoalan iman (tauhid) belaka, akan tetapi juga menyangkut masalah sosial berupa menegakkan keadilan, kesetaraan, membantu kaum lemah, memebebaskan umat dari keterbelakangan, dan kebodohan. Yang kesemuanya ini didasari oleh spirit tauhid. Sehingga tauhid menjadi ilmu yang selalu bisa menyatu dengan zaman dan menjadi dekat dengan umat. Akibatnya tauhid bukan lagi menjadi ilmu yang bertugas membela Tuhan. Kelompok ini membawa berbagai sifat Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dimana jika Tuhan Maha Penyayang, maka bagaimana kita sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fi al ardh) harus bisa bersifat penyayang kepada sesama manusia. Jika Tuhan punya sifat al Bashir (Melihat), maka bagaimana kita sebagai wakilNya bisa melihat kondisi dan realitas di sekitar, bahwa masih banyak tetangga yang butuh diperjuangkan dan butuh pertolongan kita. Demikian juga sifat Tuhan yang lain seperti as Sami’ (Mendengar), maka bagaimana kita mendengar jeritan dan tangisan pedagang kaki lima yang gerobak dagangnya digusur oleh Satpol PP, atau bagaimana kita bisa melihat jeritan ibu tua yang terserang kanker yang tidak diobati karena tidak ada biaya dll.

Penutup

Demikian refleksi tauhid ini, semoga kita bisa mengambil hikmah dari tulisan di atas dan bisa memposisikan tauhid sebagaimana layaknya sesuai dengan porsinya. Yang jelas menurut Amin Abdullah, agar tidak terlalu terkesan sakral dan menakutkan, maka sebaiknya tidak menggunakan istilah tauhid melainkan menggunakan istilah filsafat tauhid. Sebab ilmu tauhid diakui atau tidak merupakan karya manusia yang penuh pergumulan intelektual keilmuan dan tauhid merupakan bentuk falsafah yang berwujud gagasan-gagasan pemikiran manusia tentang keTuhanan yang dibentuk oleh kondisi zaman waktu itu. Nah, karena tauhid adalah suatu pergumulan keilmuan, maka sewaktu-waktu bisa berubah dan dimungkinkan untuk dikembangkan.[6]

*) Penulis adalah siswa kelas III Tsanawiah MHM Lirboyo Kediri

Daftar pustaka :

1. Abi Abdillah Muhammad bin Mazid al Qusyairi, Sunan Ibnu Majah, Libanon Dar al Fikr 1995 M/1415 H juz 2

2. Amin Abdullah, Studi Agama : Normativitas atau Historias ?, Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2002

3. Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada 2000 bag. I & II

4. M. Laili Mansur, Pemikiran Kalam dalam Islam, Jakarta : Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan, 1884


[1] Selain istilah ilmu tauhid, juga bisa menggunakan ilmu kalam atau teologi Islam

[2] Hal ini berawal dari Hadis Nabi tentang devinisi Iman, Islam, dan Ihsan, lihat pada karya Imam Abi Abdillah Muhammad bin Mazid al-Qurasyari, Sunan Ibnu Majah, Libanon: Dar al-Fikr, 1995 M/ 1415 H. Juz I, Hal. 37

[3] M. Layli Mansur, Pemikiran Kalam dalam Islam, Jakarta: Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan 1884 hlm 24

[4] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2000 bagian ke 1&2 hlm 159

[5] تفكروفى خلق الله ولاتفكروفى ذات الله

[6] M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Histirisitas ?, Yogyakarta : Putaka Pelajar, 2002 hlm. 129

  1. Sungguh bagus tema yang diangkat dan dibahas dengan jelas. Semoga bermanfaat. Amin…

  2. benar benar bacaan yang sangat bagus .membuat saya termotivasi untuk belajar agama lebih dalam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: