misykat

Tanya Jawab al Quran

Edisi 45, Maret 2008

Menulis Lafadz Allah dengan Tinta Merah

1. Romo Kiai yang saya hormati! Saya ingin bertanya: Setahu saya dalam kitab Ta’lim Muta’allim dijelaskan bahwa menulis dengan tinta warna merah hukumnya tidak diperbolehkan, namun mengapa penulisan lafadz Jalalah dalam al Quran Rosm Utsmaniy justru ditulis dengan warna merah? Mohon penjelasannya

Nur Kholis

Temanggung

Jawab: Saudara Nur Kholis, dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Syaikh Zarnujiy hanya menerangkan adabnya/ etika bahwa yanbaghi (seyogyanya/ sebaiknya) tulisan kitab tidak ada yang berwarna merah. Karena merah -penulisan dengan warna merah- itu model kaum filsuf bukan model kaum salaf. Jadi hukumnya tidak sampai haram bahkan makruhpun tidak. Kemudian mengenai mushaf RU (Rosm Usmani), yang ada warna merahnya pada lafadz hanya mushaf terbitan Dar Fikr Bairut saja. Mungkin merah-merah itu hanya sebagai variasi hiasan saja, kan tidak apa-apa bahkan lebih mantap. Apalagi jika tujuan dalam penulisan lafadz Jalalah dengan tinta merah ada unsur ta’zhim/ mengagungkan Allah Swt dan mushaf yang dibaca adalah bagus sekali, insya Allah. Wallahu ‘Alam.

 

2. Romo Kiai yang saya hormati, saya ingin menanyakan beberapa hal yaitu: Di surat al-Furqon: 29 mengapa lafadz  فِيهِ مُهَانا dibaca panjang? Apa sirrinya/ rahasianya? Kebanyakan orang membeli/ menjual al-Quran di toko-toko tidak memiliki wudhu dan dengan seenaknya mereka memegang al-Quran. Sebenarnya bagaimanakah hukum memegang al-Quran dalam keadaan demikian?

 

Subhan

Lampung Timur

 

Jawab: Saudara Subhan, pada lafadz فِيهِ مُهَاناً, hadhomir (kata ganti benda) di situ memang ada dua macam bacaan dari Nabi Muhammad saw. Imam Ibnu Kastir al Makkiy membaca panjang, para Qurro’/ pembaca lainnya membaca pendek. Sedangkan bacaan kita menurut Imam ‘Ashim khususnya pada ha’ dhomir ini kebetulan sama dengan Imam Ibnu Kastir, yakni panjang kalau washol, kalau waqof di baca mati (فِيهِ). Jadi bacaan kita semua lafadz فِيهِ  dibaca pendek semua, hanya satu ini yang harus panjang , adalah merupakan pengecualian dan termasuk bacaan ghorib/ asing. Yakni pembaca al-Quran yang belum meneliti sering salah atau memang belum mengerti kalau itu harus dibaca panjang. Refrensi dari kitab-kitab Fil Qiroat.

Hukum memegang mushaf al-Quran wajib dalam keadaan suci kecuali dalam keadaan darurat-andaikan tidak dipegang/ diambil, mushaf tersebut akan tercecer/ tersia-siakan- dan dalam permasalahan ini belum sampai tahap darurat. Maka hendaknya diusahakan bersuci. Karena ini merupakan adab penghormatan terhadap kitab suci dihukumi wajib oleh ulama kita. Maka jika terpaksa tidak bisa memenuhi adab ini hendaknya merasa berdosa dan minta ampun. Tidak perlu mencari atau menggunakan pendapat lain yang memeperbolehkan memegang mushaf tanpa wudhu. Inilah yang selalu kita amalkan berdasarkan keterangan kitab-kitab fikih.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: